Letkol Inf HM.
Nasrullah Nasution
Sosok Tentara
Religius Yang Rendah Hati
Berangkat dan dibesarkan dari lingkungan yang
relegius, sosok Letkol Inf H. Muhammad Nasrullah Nasution yang lahir di Purba
Baru, Mandailing Nata, 28 Mei 1971 lalu ini tetap bersahaja, rendah hati, dan
tidak ingin menonjolkan diri meski perjalanan karir militernya boleh dikatakan cukup
cemerlang.
Diusia yang sudah memasuki usia 42 tahun,
Komandan Kodim 0904/TNG ini, masih terlihat gagah dan sigap, dibalik sosok yang
tegas dank eras ternyata putra pasangan Abdul Mustafa dan Zahara Hanum ini adalah
sosok yang hangat dan ramah.
Sebelum menjadi seorang orang nomor satu di
Kodim 0904/TNG, bapak dua putra ini mengawali karier di Satuan Brigade
Infanteri I/Jaya Sakti pada 1995. Selama 10 tahun di Brigif I, lalu tahun 2005 karena
kecakapannya Nasrullah Nasution ditugaskan ke Aceh tahun 2005-2008 sebagai Wadan
Intel dan sempat merasakan menjadi Danyon 614 Rajapandita di perbatasan.
Sebelum mendapat amanah menjadi komandan Kodim 0904/TNG.
“Sebenarnya tak ada yang istimewa dalam
perjalanan karier saya. Biasa-biasa saja, sebagai TNI Kita menjalani sesuai
dengan tugas dan penuh tangggung jawab. Karena tentara adalah rakyat jadi sudah
seharusnya menjadi pembela rakyat. Sepanjang apa yang diperjuangkan rakyat itu
benar,”ujar pria yang telah berkarir 17 tahun di TNI ini merendah.
Dibesarkan dilingkungan yang relegius, mengapa
memilih jalur TNI untuk mengabdi kepada Negara, ayah dari Abi Ja’ar Nasution
dan Gafi Nasution ini membeberkan kalau awal niatan untuk menjadi TNI muncul
saat melihat Pasukan pengaman para pejabat Orde Baru yang saat mudanya sering
datang bersilaturahmi di Kakeknya Buyutnya, pendiri Pesantren Musthafawiyah
Purba Baru di Kabupaten Mandailing Nata.
Disinggung mengenai kesan-kesannya dalan
bertugas disetiap daerah selama di TNI, Suami Mega Fitrisia ini mengatakan
kalau sebagai anggota TNI ia harus siap membela bangsa dan Negara. termasuk
bertugas dimanapun harus dinikmati. Dan berdasarkan pengalamannya selama ini,
di tiga pulau berbeda ia menilai setiap daerah memiliki karakter unik yang
tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Jadi Indonesia dinilainya
benar-benar Bhenika Tunggal Ika, yang tidak dimiliki oleh Negara lain.
Ditanya apa yang akan dilakukannya setelah
tibanya masa pensiun nanti, pria bungsu dari 10 bersaudara ini mengaku akan
kembali ke kampung halamannya untuk menjadi santri dan mengabdikan dirinya
untuk mengurus pondok pesantren yang telah diwariskan kakek buyutnya secara
turun temurun. (Santo/LaCak)


